Showing posts with label Refleksi Diri. Show all posts
Showing posts with label Refleksi Diri. Show all posts
12 KEAJAIBAN SOLAT TAHAJUD
Posted On Sunday, February 22, 2015 at at 4:19 PM by maori
“Jika
matahari sudah terbenam, aku gembira dengan datangnya malam dan manusia tidur
karena inilah saat hanya ada Allah dan aku.”
Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah Saw dan para sahabat selalu melaksanakan solat tahajud. Solat tahajud adalah solat yang sangat mulia. Keajaiban melaksanakan solat tahajud telah tercatat dalam alquran. Ada beberapa keajaiban solat tahajud berikut ini.
1. Solat Tahajud sebagai tiket masuk surga ...
Abdullah Ibn Muslin
berkata “kalimat yang pertama kali ku
dengar dari Rasulullah Saw saat itu adalah, “Hai sekalian manusia! Sebarkanlah
salam, bagikanlah makanan, sambunglah silaturahmi, tegakkan lah solat malam
saat manusia lainnya sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”
(HR. Ibnu Majah).
2. Amal yang menolong di akhirat ...
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa
berada di dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, seraya mengambil
apa yang Allah berikan kepada mereka. Sebelumnya mereka adalah telah berbuat
baik sebelumnya (di dunia), mereka adalah orang-orang yang sedikit tidurnya di
waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah).” (QS. Az
Zariyat: 15-18)
Ayat di atas menunjukkan bahwa orang yang senantiasa bertahajud Insya Allah akan mendapatkan balasan yang sangat nikmat di akhirat kelak.
3. Pembersih penyakit hati dan jasmani ...
Salman Al Farisi berkata,
Rasulullah Saw bersabda, “Dirikanlah solat
malam, karena sesungguhnya solat malam itu adalah kebiasaan orang-orang shaleh
sebelum kamu, (solat malam dapat) mendekatkan kamu kepada tuhanmu, (solat malam
adalah) sebagai penebus perbuatan buruk, mencegah berbuat dosa, dan
menghindarkan diri dari penyakit yang menyerang tubuh.” (HR. Ahmad)
4. Sarana meraih kemuliaan ...
Rasulullah Saw bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, “Wahai
Muhammad, hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati, cintailah orang yang
engkau suka, karena engkau akan berpisah dengannya, lakukanlah apa keinginanmu,
engkau akan mendapatkan balasannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya kemuliaan
seorang muslim adalah solat waktu malam dan ketidakbutuhannya di muliakan orang
lain.” (HR. Al Baihaqi)
5. Jalan mendapatkan rahmat Allah ...
5. Jalan mendapatkan rahmat Allah ...
Abu Hurairah berkata
bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Semoga
Allah merahmati laki-laki yang bangun malam, lalu melaksanakan solat dna
membangunkan istrinya. Jika sang istri menolak, ia memercikkan air di wajahnya.
Juga, merahmati perempuan yang bangun malam, lalu solat dan membangunkan
suaminya. Jika sang suami menolak, ia memercikkan air di wajahnya.” (HR.
Abu Daud)
6. Sarana Pengabulan permohonan ...
Allah SWT berjanji akan
mengabulkan doa orang-orang yang menunaikan solat tahajud dengan ikhlas.
Rasulullah Saw Bersabda, “Dari Jabir
berkata, bahwa nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya di malam hari , ada satu saat
yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah
memberinya, Itu berlangsung setiap malam.” (HR. Muslim)
7. Penghapus dosa dan kesalahan ...
Dari Abu Umamah al-Bahili
berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Lakukanlah
Qiyamul Lail, karena itu kebiasaan orang saleh sebelum kalian, bentuk taqarub,
penghapus dosa, dan penghalang berbuat salah.” (HR. At-Tirmidzi)
8. Jalan mendapat tempat yang terpuji
Allah berfirman,“Dan pada sebagian malam bertahajudlah kamu
sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke
tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’:79)
9. Pelepas ikatan Syaitan ...
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Syaitan
akan mengikat kepala seseorang yang sedang tidur dengan ikatan, menyebabkan
kamu tidur dengan cukup lama. Apabila seseorang itu bangkit seraya menyebut
nama Allah, maka terlepaslah ikatan pertama, apabila ia berwudhu maka akan
terbukalah ikatan kedua, apabila di solat akan terbukalah ikatan semuanya. Dia
juga akan merasa bersemangat dan ketenangan jiwa, jika tidak maka dia akan
malas dan kekusutan jiwa.”
10. Waktu utama untuk berdoa ...
10. Waktu utama untuk berdoa ...
Amru Ibn ‘Abasah berkata,
“Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya
Rasulullah! Malam apakah yang paling di dengar?”, Rasulullah Saw menjawab,
“Tengah malam terakhir, maka solat lah sebanyak yang engkau inginkan, sesungguhnya
solatwaktu tersebut adalah maktubah masyudah (waktu yang apabila bermunajat
maka Allah menyaksikannya dan apabila berdoa maka didengar doanya)” (HR.
Abu Daud)
11. Meraih kesehatan jasmani ...
11. Meraih kesehatan jasmani ...
“Hendaklah
kalian bangun malam. Sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang saleh sbelum
kalian. Wahana pendekatan diri pada Allah Swt, penghapus dosa, dan pengusir
penyakit dari dalam tubuh.” (HR. At-Tarmidzi)
12. Penjaga kesehatan rohani ...
Allah SWT menegaskan
bahwa orang yang solat tahajud akan selalu mempunyai sifat rendah hati dan
ramah. Ketenangan yang merupakan refleksi ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan
sehari-hari di masyarakat.
Allah Berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang
itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang
baik. Dan orang yang melewati malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk
Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).
Keajaiban solat tahajud sudah terbukti, maka bertahajudlah!
Sumber: zilzaal.blogspot.com/2012
Peringatan untuk hamba dan rakan-rakan.
Posted On Tuesday, February 4, 2014 at at 10:46 PM by maori
Untuk 40 series
Assalamu’alaikum,
Ramai tidak sedar dalam al-Quran ada menyentuh tentang usia ini. Tentu ada yang sangat penting, perlu diperhatikan dan diambil serius akan perkara ini. Allah swt. berfirman,
حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
"Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (al-Ahqaf: 15)
Usia 40 tahun disebut dengan jelas dalam ayat ini. Pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fizikal, intelektual, emosi, mahupun spiritualnya. Benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan melangkah ke usia dewasa yang sebenar.
Doa yang terdapat dalam ayat tersebut dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang berusia 40 tahun dan ke atas. Di dalamnya terkandung penghuraian yang jelas bahawa mereka; telah menerima nikmat yang sempurna, kecenderungan untuk beramal yang positif, telah mempunyai keluarga yang harmoni, kecenderungan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah
Pada ayat yang lain, firman Allah;
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ
Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam tempoh yang cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mahu berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? (al-Fathir: 37)
Menurut Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, al-Kalbi, Wahab bin Munabbih, dan Masruq, yang dimaksud dengan “umur panjang dalam tempoh yang cukup untuk berfikir” dalam ayat tersebut tidak lain adalah ketika berusia 40 tahun.
Menurut Ibn Kathir, ayat ini memberikan petunjuk bahawa manusia apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbaharui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh2.
Apabila itu berlaku menjelang usia 40 tahun, maka Allah memberikan janjiNya dalam ayat selepas itu: (maksudnya) Kematangan.
Usia 40 tahun adalah usia matang untuk kita bersungguh-sungguh dalam hidup. Mengumpulkan pengalaman, menajamkan hikmah dan kebijaksanaan, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian. Maka tidak hairan tokoh-tokoh pemimpin muncul secara matang pada usia ini. Bahkan Nabi s.a.w, seperti yang disebut oleh Ibn ‘Abbas:
“Dibangkitkan Rasulullah s.a.w pada usia 40 tahun” (riwayat al-Bukhari).
Nabi Muhammad saw. diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi2 yang lain, kecuali Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as.
Banyak negara menetapkan untuk menduduki jabatan2 elit seperti ketua negara, disyaratkan bakal calon harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat sendiri mengakui prestasi seseorang mantap tatkala orang itu telah berusia 40 tahun. Soekarno menjadi presiden pada usia 44 tahun. Soeharto menjadi presiden pada umur 46 tahun. J.F. Kennedy 44 tahun. Bill Clinton 46 tahun. Paul Keating 47 tahun. Sementara Tony Blair 44 tahun.
Mengapa umur 40 tahun begitu penting.
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) period, iaitu
1. Kanak-kanak ( sejak lahir hingga akil baligh )
2. Muda atau syabab ( sejak akil baligh hingga 40 tahun )
3. Dewasa ( 40 tahun hingga 60 tahun )
4. Tua atau syaikhukhah ( 60 tahun hingga mati )
Usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih kepada masa dewasa penuh. Kenyataan yang paling menarik pada usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Seolah-olah macam satu fitrah di usia ini ramai yang mula menutup aurat dan mendekati kuliah-kuliah agama.
Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah saw.,
لعَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً خَفَّفَ اللهُ تَعَالَى حِسَابَهُ ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً رَزَقَهُ اللهُ تَعَالَى الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِيْنَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً ثَبَّتَ اللهُ تَعَالَى حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِيْنَ سَنَةً غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ اللهُ تَعَالَى فِى أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَكَتَبَ فِى السَّمَاءِ أَسِيْرَ اللهِ فِى أَرْضِهِ – رواه الإمام أحمد
"Seorang hamba muslim bila usianya mencapai 40 tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai 60 tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepadaNya. Bila usianya mencapai 70 tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai 80 tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai 90 puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang dahulu, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai tawanan Allah di bumi. (riwayat Ahmad)
Hadis ini menyebut usia 40 tahun paling awal memiliki komitmen terhadap penghambaan kepada Allah swt. sekaligus konsisten terhadap Islam, maka Allah swt. akan meringankan hisabnya. Orang yang usianya mencapai 40 tahun mendapatkan keistimewaan berupa hisabnya diringankan. Tetapi umur 40 tahun merupakan saat harus berhati2 juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk senja. Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dpt mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”
Imam asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa2 syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”
Lantas, apa yang harus kita lakukan menginjak usia 40 tahun?
1. Meneguhkan tujuan hidup
2. Meningkatkan daya spiritual
3. Menjadikan uban sebagai peringatan
4. Memperbanyak bersyukur
5. Menjaga makan dan tidur
6. Menjaga istiqamah dalam ibadah.
Jika ada yang mengatakan bahawa: Life began at forty, saya cenderung berpendapat kehidupan yang dimaksudkan ialah kehidupan terarah kepada mendekatkan diri kepada penciptaNya dengan sebenar-benarnya. Tetapi satu perkara yang kita harus sentiasa sedar bahawa kematian memanggil kita bila-bila masa tanpa tanda, tanpa alamat dan tanpa mengira usia. Jika kita beranggapan harus menunggu usia 40 tahun untuk baru memulakan kehidupan yang dimaksudkan di atas, maka rugi dan sia-sia lah hidup kita jika umur kita tidak panjang.
Maksud sabda Nabi Muhammad S.A.W ," Orang yang bijak adalah orang yang selalu mengingati mati".
Ramai manusia tertipu dengan keindahan dunia dan isinya yang bersifat sementara. Sejak Nabi Adam as. sehingga kini, kesemuanya telah kembali kepada Allah swt. tidak kira kaya atau miskin, berpangkat atau tidak. Mengingati mati bukan bermakna kita akan gagal di dunia tetapi dengan mengingati mati kita akan menjadi insan yang berjaya di dunia dan di akhirat. janganlah menunggu sehingga esok untuk membuat persediaan menghadapi kematian, kerana mati boleh datang pada bila-bila masa..
Wallahu a’lam
Assalamu’alaikum,
Ramai tidak sedar dalam al-Quran ada menyentuh tentang usia ini. Tentu ada yang sangat penting, perlu diperhatikan dan diambil serius akan perkara ini. Allah swt. berfirman,
حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
"Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (al-Ahqaf: 15)
Usia 40 tahun disebut dengan jelas dalam ayat ini. Pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fizikal, intelektual, emosi, mahupun spiritualnya. Benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan melangkah ke usia dewasa yang sebenar.
Doa yang terdapat dalam ayat tersebut dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang berusia 40 tahun dan ke atas. Di dalamnya terkandung penghuraian yang jelas bahawa mereka; telah menerima nikmat yang sempurna, kecenderungan untuk beramal yang positif, telah mempunyai keluarga yang harmoni, kecenderungan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah
Pada ayat yang lain, firman Allah;
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ
Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam tempoh yang cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mahu berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? (al-Fathir: 37)
Menurut Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, al-Kalbi, Wahab bin Munabbih, dan Masruq, yang dimaksud dengan “umur panjang dalam tempoh yang cukup untuk berfikir” dalam ayat tersebut tidak lain adalah ketika berusia 40 tahun.
Menurut Ibn Kathir, ayat ini memberikan petunjuk bahawa manusia apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbaharui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh2.
Apabila itu berlaku menjelang usia 40 tahun, maka Allah memberikan janjiNya dalam ayat selepas itu: (maksudnya) Kematangan.
Usia 40 tahun adalah usia matang untuk kita bersungguh-sungguh dalam hidup. Mengumpulkan pengalaman, menajamkan hikmah dan kebijaksanaan, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian. Maka tidak hairan tokoh-tokoh pemimpin muncul secara matang pada usia ini. Bahkan Nabi s.a.w, seperti yang disebut oleh Ibn ‘Abbas:
“Dibangkitkan Rasulullah s.a.w pada usia 40 tahun” (riwayat al-Bukhari).
Nabi Muhammad saw. diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi2 yang lain, kecuali Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as.
Banyak negara menetapkan untuk menduduki jabatan2 elit seperti ketua negara, disyaratkan bakal calon harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat sendiri mengakui prestasi seseorang mantap tatkala orang itu telah berusia 40 tahun. Soekarno menjadi presiden pada usia 44 tahun. Soeharto menjadi presiden pada umur 46 tahun. J.F. Kennedy 44 tahun. Bill Clinton 46 tahun. Paul Keating 47 tahun. Sementara Tony Blair 44 tahun.
Mengapa umur 40 tahun begitu penting.
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) period, iaitu
1. Kanak-kanak ( sejak lahir hingga akil baligh )
2. Muda atau syabab ( sejak akil baligh hingga 40 tahun )
3. Dewasa ( 40 tahun hingga 60 tahun )
4. Tua atau syaikhukhah ( 60 tahun hingga mati )
Usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih kepada masa dewasa penuh. Kenyataan yang paling menarik pada usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama sedangkan semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Seolah-olah macam satu fitrah di usia ini ramai yang mula menutup aurat dan mendekati kuliah-kuliah agama.
Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah saw.,
لعَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً خَفَّفَ اللهُ تَعَالَى حِسَابَهُ ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً رَزَقَهُ اللهُ تَعَالَى الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِيْنَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً ثَبَّتَ اللهُ تَعَالَى حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِيْنَ سَنَةً غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ اللهُ تَعَالَى فِى أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَكَتَبَ فِى السَّمَاءِ أَسِيْرَ اللهِ فِى أَرْضِهِ – رواه الإمام أحمد
"Seorang hamba muslim bila usianya mencapai 40 tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai 60 tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepadaNya. Bila usianya mencapai 70 tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai 80 tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai 90 puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang dahulu, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai tawanan Allah di bumi. (riwayat Ahmad)
Hadis ini menyebut usia 40 tahun paling awal memiliki komitmen terhadap penghambaan kepada Allah swt. sekaligus konsisten terhadap Islam, maka Allah swt. akan meringankan hisabnya. Orang yang usianya mencapai 40 tahun mendapatkan keistimewaan berupa hisabnya diringankan. Tetapi umur 40 tahun merupakan saat harus berhati2 juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk senja. Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dpt mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”
Imam asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa2 syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”
Lantas, apa yang harus kita lakukan menginjak usia 40 tahun?
1. Meneguhkan tujuan hidup
2. Meningkatkan daya spiritual
3. Menjadikan uban sebagai peringatan
4. Memperbanyak bersyukur
5. Menjaga makan dan tidur
6. Menjaga istiqamah dalam ibadah.
Jika ada yang mengatakan bahawa: Life began at forty, saya cenderung berpendapat kehidupan yang dimaksudkan ialah kehidupan terarah kepada mendekatkan diri kepada penciptaNya dengan sebenar-benarnya. Tetapi satu perkara yang kita harus sentiasa sedar bahawa kematian memanggil kita bila-bila masa tanpa tanda, tanpa alamat dan tanpa mengira usia. Jika kita beranggapan harus menunggu usia 40 tahun untuk baru memulakan kehidupan yang dimaksudkan di atas, maka rugi dan sia-sia lah hidup kita jika umur kita tidak panjang.
Maksud sabda Nabi Muhammad S.A.W ," Orang yang bijak adalah orang yang selalu mengingati mati".
Ramai manusia tertipu dengan keindahan dunia dan isinya yang bersifat sementara. Sejak Nabi Adam as. sehingga kini, kesemuanya telah kembali kepada Allah swt. tidak kira kaya atau miskin, berpangkat atau tidak. Mengingati mati bukan bermakna kita akan gagal di dunia tetapi dengan mengingati mati kita akan menjadi insan yang berjaya di dunia dan di akhirat. janganlah menunggu sehingga esok untuk membuat persediaan menghadapi kematian, kerana mati boleh datang pada bila-bila masa..
Wallahu a’lam
Amalan 10 Malam Terakhir Ramadhan
Posted On Saturday, August 3, 2013 at at 10:56 PM by maori
Antara amalan Nabi SAW apabila mendekati 10
malam terakhir Ramadan adalah:
1. Melakukan qiamullail;
2. Menggerakkan keluarga untuk solat malam
pada malam itu;
3. Tidak mendatangi isteri (daripada
melakukan jimak);
4. Mandi antara Maghrib dan Isyak;
5. Iktikaf dalam masjid.
Aisyah meriwayatkan bahawa Nabi SAW tidak
sentiasa melakukan ibadat pada 10 yang terakhir Ramadan dengan cara yang tidak
pernah dilakukan pada waktu selainnya. (Riwayat Muslim)
Dalam hadis ini nabi memberikan penumpuan
khusus kepada malam terakhir Ramadan untuk merebut peluang mendapat lailatul
qadar yang disifatkan Allah dalam ayat ke-3 surah al-Qadar sebagai:
“Lailatulqadar lebih baik daripada 1,000 bulan.”
Demikian pula dalam hadis sahih riwayat
al-Bukhari dan Muslim, maksudnya: “Sesiapa
mengerjakan ibadah pada lailatulqadar kerana imannya kepada Allah dan
mengharapkan keredaan-Nya, diampunkan dosanya yang lalu”.
Diriwayatkan al-Tabarani daripada Ali bahawa Nabi SAW mengejutkan keluarganya pada
10 hari terakhir di kalangan yang kecil dan besar dan yang dewasa yang mampu
melakukan solat.
Dalam sesetengah riwayat apa yang sangat
dituntut ke atas Muslim ialah menggerakkan keluarga pada malam ganjil seperti
21, 23, 25, 27 dan 29 kerana mengharapkan lailatulqadar. Pada malam pilihan
seperti ini, Nabi SAW menurut riwayat Anas dan Aisyah, menjauhi hubungan suami
isteri untuk berada di masjid bertujuan melakukan iktikaf sama ada mendirikan
solat sunat, beristighfar dan sebagainya.
Persiapan Nabi SAW untuk menghadapi iktikaf
juga harus kita contohi. Ibn Abi Ashim meriwayatkan daripada Abu Huzaifah Nabi
SAW pernah mandi sebelum beriktikaf dengan dilindungi Abu Huzaifah. Kemudian
Abu Huzaifah mandi dan Baginda menjadi dindingnya. Inilah sebabnya sahabat
gemar mandi setiap malam antara Maghrib dan Isyak sebelum ke masjid untuk
iktikaf.
Ulama Islam berbeza pandangan mengenai
pelaksanaan qiamullail antara menghidupkan keseluruhan malam ataupun
sebahagiannya saja. Abu Jakfar Muhammad Ali mengatakan Rasulullah menghidupkan
sebahagian daripada malam, bukan sepanjang malam. Demikian juga Imam
al-Syafi’iy dan amal ahli Madinah menyokong pendapat itu.
Ini berpandukan hadis riwayat Aisyah Nabi
tidak pernah solat malam hingga ke Subuh tanpa berehat. Sesetengah ulama
meringankan persoalan qiam sehingga mengatakan seseorang dianggap melakukan
qiamullail disebabkan kesungguhannya bersolat jemaah Isyak dan Subuh. Ini
berdasarkan riwayat dalam al-Muwatthak daripada Ibn Musayyib yang berkata,
maksudnya: “Sesiapa yang menghadiri solat
Isyak dengan berjemaah, sesungguhnya dia memperoleh bahagiannya daripada malam
itu.”
Dalam riwayat daripada Imam al-Syafi’iy
menyatakan: “Sesiapa yang solat Isyak dan
Subuh berjemaah, dia mengambil bahagiannya daripada bulan itu.” Ibn Abi
Dunya daripada Abu Jakfar Muhammad Ali meriwayatkan Nabi SAW bersabda: “Sesiapa yang datang kepadanya Ramadan, lalu
dia berpuasa siangnya, solat Tarawih pada malamnya, menahan matanya daripada
melihat perkara haram, menjaga kemaluannya, lidah dan tangannya dan sentiasa
berusaha untuk solat berjemaah dan Jumaat, maka dia sudah memperoleh
lailatulqadar dan pahala Allah SWT yang tidak ternilai harganya.”
Ringkasnya sekurang-kurang usaha
membangunkan malam ataupun qiamullail untuk mendapat kelebihan lailatulqadar
ialah melakukan solat Isyak dan subuh berjemaah bagi lelaki.
Bagi wanita khasnya yang uzur kerana haid
dan nifas, masih mampu memperoleh lailatulqadar dengan melakukan ketaatan
seperti beristighfar, berzikir, berselawat, mempertingkatkan sedekah dan
mengamalkan doa yang dianjurkan Nabi kepada Aisyah iaitu: “Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang maha pengampun, Engkau
gemar memberikan keampunan, maka ampunkan aku.”
Dalam tafsir Hasyiah al-Sawiy ‘alal
Jalalain, al-Sawi berkata, doa paling penting yang dituntut ke atas kita
mengamalkannya adalah memohon keampunan dan keafiatan seperti disarankan Nabi
SAW.
Dalam zikir, kita mengucapkan: “Tiada Tuhan melainkan Allah yang sangat
besar kemurahan-Nya, lagi sangat pemurah. Maha suci Allah SWT, yang memiliki
tujuh petala langit dan Tuhan yang memiliki Arasy yang maha agung (tiga kali),
maka sesungguhnya dia sudah mendapatkan lailatul qadar.”
Selain itu, sebagai tambahan bagi lelaki
dan perempuan yang inginkan lailatulqadar terdapat amaran tegas daripada Nabi
SAW seperti riwayat Ibn Abbas bermaksud: “Sesungguhnya
Allah akan memerhatikan orang beriman daripada kalangan umat Nabi Muhammad,
lalu dimaafkan bagi mereka dan dirahmati melainkan empat golongan iaitu peminum
arak, penderhaka ibu bapa, orang selalu bertengkar dan orang memutuskan
silaturahim.”
Sumber: www.pondoktauhid.blogspot.com
Ubati marah dengan ilmu dan amal
Posted On Tuesday, April 9, 2013 at at 2:21 PM by maori
Bilakah kali terakhir anda marah dan kepada siapakah anda tujukan
kemarahan itu? Sudah berapa banyak hati yang terluka dengan kemarahan anda itu?
Bukan tidak boleh marah namun kadang-kadang marah itu
menjadi wajib. Nabi pun pernah marah apabila agamanya dipermainkan. Bila ada
pelanggaran hukum Allah nabi menampakkan kemarahannya.
Buruk sangat marah
dilakukan kerana nafsu. Ja’far bin Muhammad mengatakan, “Marah adalah pintu segala kejelekan.” Dikatakan kepada Ibnu
Mubarak, “Kumpulkanlah untuk kami akhlak
yang baik dalam satu kata! Beliau menjawab, “Meninggalkan amarah.”
Demikian juga Imam Ahmad dan Ishaq menafsirkan bahawa akhlak yang baik adalah dengan meninggalkan amarah. Orang yang marah tidak tentu pasal tidak perasan ke buruknya muka orang marah.
Raut wajahnya berubah, darahnya meluap, anggota menggeletar, urat-urat lehernya menegang, pergerakannya kelam kabut, percakapannya tidak jelas, lidahnya mudah mengeluarkan kata keji, mengumpat, mengutuk dan kemungkinan mengeluarkan kata haram yang boleh mengeluarkannya daripada Islam seperti lafaz kufur, mencela agama dan seumpamanya.
Selain daripada itu, seorang yang cepat marah akan melakukan tindakan di luar dugaan yang berkemungkinan akan membabitkan kerugian harta dan kesakitan pada tubuh badan.
Yang parah lagi, marah terhadap masyarakat, ia melahirkan perasaan dengki
di dalam diri dan menyembunyikan niat jahatnya terhadap seseorang.
Ia boleh membawa kepada perbuatan menyakiti orang lain dan membenci serta merasa gembira apabila mereka ditimpa musibah. Seterusnya akan mencetuskan permusuhan dan kebencian di antara sesama manusia.
Maka, rosaklah kehidupan dan runtuhlah masyarakat. Ada seperkara lagi yang selalu kita lakukan ketika marah, padahal perkara itu amat membahayakan diri sendiri sebelum ia membahayakan diri orang lain.
Mungkin kita menyedari perbuatan itu salah, tetapi kerana terlalu terpengaruh dengan marah kita tidak dapat menimbang lagi segala kata-kata yang diucapkan oleh lidah.
Kata-kata itu seperti melaknati orang, mencelakakan orang dan sebagainya. Sebab jika kita menyebutkan kata-kata yang tidak senonoh itu kepada orang lain, seolah-olah kita menuduhnya dengan ucapan kita itu.
Andai kata apa yang diucapkan itu memang benar, nescaya kita melanggar perintah menyuruh kita menutup segala keaiban orang lain. Orang yang mendedahkan keaiban saudaranya adalah berdosa besar di sisi Allah sekalipun perkara yang dituduhnya itu memang benar. Apatah lagi jika tidak benar, maka dosanya akan bertimpa-timpa lagi. Ada setengah ulama menganggap ucapan seperti ‘sial’, ‘laknat’, ‘celaka’ dan seumpamanya sebagai doa, kerana ada sebuah hadis daripada Rasulullah yang melarang perbuatan seperti itu, nescaya bencana ucapan itu akan menimpa orang yang ditujukan ucapan itu, kiranya dia memang patut menerima bencana itu pada ukuran Allah.
Tetapi kiranya dia tidak patut menerimanya, maka bencana itu akan kembali menimpa ke atas orang yang memberi ucapan itu.
Diriwayatkan dari Jabir, beliau berkata: “Suatu masa kami bersama-sama Rasulullah sedang menuju ke medan perang, tiba-tiba ada seorang Ansar merasa tidak selesa terhadap binatang kenderaannya, lalu dia menyumpah-nyumpah binatang itu: Jalanlah, laknat! Maka baginda marah kepada orang Ansar itu lalu bersabda: Turunlah dari binatang itu! Jangan engkau biarkan ia ikut bersama-sama kita, kerana ia mendapat laknat. Kemudian Baginda bersabda lagi: Janganlah engkau mendoakan (kecelakaan) ke atas dirimu atau ke atas anak-anakmu atau ke atas harta bendamu, kerana dikhuatiri bertepatan pada saat doa mustajab, di mana setiap hamba yang memohon (berdoa) sesuatu dari Tuhan akan dikabulkan”.
Di sini mari kita berkongsi sedikit tip untuk merawat sifat marah yang berasaskan nafsu atau baran. Sebenarnya penyakit marah yang dicela itu boleh diubati dengan dua perkara iaitu ilmu dan amal.
Mengubati marah dengan ilmu itu ada enam perkara:
· Bertafakur memikirkan
kisah teladan yang menyentuh buruk baiknya bersifat marah, berfikir keutamaan
menahan kemarahan, memberi maaf dan berlemah lembut. Dengan cara itu,
akan menjadikannya gemar dan suka kepada pahala yang bakal diperoleh dari
menghiasi diri dengan sifat tadi. Seterusnya dapat mencegahnya dari bersifat
marah.
· Seseorang itu menakutkan
dirinya kepada seksaan Allah dengan mempercayai bahawa kekuasaan Allah ke atas
dirinya lebih besar dari kekuasaannya ke atas manusia lain.
· Mengingatkan diri akibat
permusuhan dan pembalasan dendam.
· Berfikir mengenai bentuk
buruk dirinya ketika dia marah dan berfikir betapa kejinya sifat marah itu.
·
Berfikir sebab yang
membawanya kepada kemarahan.
· Menyedari kemarahannya
berpunca dari sikap membanggakan diri sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak
Allah.
Sementara itu, mengubati marah dengan amal perbuatan pula ialah dengan membaca doa: “Aku berlindung kepada Allah daripada syaitan yang kena rejam.”
Begitu juga sunat dibaca doa itu ketika marah, ertinya: “Wahai Tuhanku, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan hatiku dan lepaskanlah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan”.
Jika kemarahan itu tidak hilang dengan membaca ayat itu , maka hendaklah seseorang itu duduk jika dia marah dalam keadaan dia berdiri, (berdiri sebenarnya keadaan bersedia untuk bertindak sebab itu Rasul suruh duduk sebab duduk kurang sedikit kemahuan bertindak ganas. Begitu juga disuruh baring sebabnya ketika baring sudah tidak ada keupayaan untuk bertindak.
Dekatkan diri dengan bumi, yang mana dari bumi itulah dia dijadikan dan supaya dia tahu kehinaan dirinya. Kemudian carilah dengan duduk dan berbaring itu ketenangan.
Rasulullah bersabda yang maksudnya, “Ingatlah sesungguhnya marah itu adalah bara api di dalam hati anak Adam. Tidakkah engkau melihat kepada kedua matanya yang merah dan urat-urat lehernya yang membengkak? Apabila salah seorang kamu mengalami yang demikian, maka hendaklah dia melekatkan dirinya ke bumi” . Selain itu, cara menghilangkan marah juga ialah dengan mendiamkan diri. Rasulullah bersabda yang maksudnya: “Apabila seseorang di antara kamu marah, maka hendaklah dia diam.
Oleh kerana kesan tercela yang ditimbulkan sifat marah itu, Rasulullah menganjurkan umat manusia supaya jangan suka marah. Ia tidak akan mendatangkan perkara yang baik kepada diri.
Malah, menyebabkan pelbagai bencana terutama sekali perasaan marah itu diletakkan bukan pada tempatnya. Selain itu, orang yang suka marah sering ditunggangi syaitan yang memaksakan kehendaknya ke atas orang yang marah itu.
Manakala orang yang menurut kehendak syaitan tidak akan selamat di dunia dan di akhirat.
Summber:
www.hmetro.com
Doa Solat Sunat Dhuha (Doa dimurahkan rezeki)
Posted On Monday, January 28, 2013 at at 2:14 PM by maori
"Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha itu
waktu DhuhaMu, kecantikannya adalah kecantikanMu, keindahan itu keindahanMu,
kekuatan itu kekuatanMu, kekuasaan itu kekuasaanMu dan perlindungan itu
perlindunganMu.
Ya Allah, jika rezekiku masih di langit, turunkanlah, dan jika di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, permudahkanlah, jika haram, sucikanlah dan jika jauh, dekatkanlah. Berkat waktu dhuha, kecantikan, keindahan, kekuatan, kekuasaanMu, limpahkan kepadaku segala yang Engkau telah limpahkan kepada hamba-hambaMu yang soleh."
Jom Solat sunat Dhuha.. Semoga dipermudahkannya
Mesti sensitif dan peka
Posted On Thursday, December 20, 2012 at at 12:06 AM by maori
DUNIA semakin hari semakin tua menanti saat sampai ke
penghujungnya. Entah sampai bila bumi ini sanggup menahan kerakusan manusia
yang semakin ghairah melakukan kerosakan demi kerosakan di atas ciptaan Allah
ini.
Cuma kita yang hidup di dunia ini kadangkala
seakan-seakan lupa mengenai kehidupan di alam sana iaitu akhirat. Disebabkan
itu, kita mengambil mudah atau memandang remeh segala perkara dalam keadaan
sedar atau tidak.
Namun, perlu kita peringatkan diri bahawa setiap amalan serta perbuatan kita di dunia akan disoal di depan Allah SWT di akhirat. Kita akan dipertanggungjawabkan sepenuhnya.
Jika kita lihat situasi masa kini, antara paling kita
abai serta ketepikan ialah soal halal dan haram. Soal halal dan haram bukan
saja bercampur baur antara satu sama lain, malah lebih malang, ia dikaburkan
segelintir pihak secara sengaja atau tidak.
Sedarilah bahawa setiap yang halal dan haram itu sebenarnya adalah jelas di sisi agama Allah.
Antara penjelasan mengenai halal dan haram adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Abdullah An-Numan bin Basyir RA, bermaksud: “Aku mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara kedua-duanya ada perkara yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, barang siapa menjaga dirinya daripada yang samar-samar itu, bererti ia menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barang siapa terjerumus dalam perkara syubhah (samar-samar statusnya), ia terjerumus ke dalam perkara yang haram...” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim) Namun, pada hari ini, tidak ramai umat Islam yang sensitif terhadap perkara membabitkan halal dan haram. Sebaliknya, kebanyakan kita menjadi sensitif apabila ada pihak menjadikan sesuatu perkara itu sebagai isu panas.
Seperti contoh, isu murtad yang hangat diperkatakan dan
diperdebatkan sebelum ini. Namun, ia hanya bermusim dan selepas berlalu
‘musimnya’, kita mula melupakan isu ini.
Pada masa sama, kita selalu mengambil mudah perkara membabitkan halal, haram serta syubhah. Contoh paling mudah adalah dalam hal makan dan minum kita. Kita boleh melihat di Internet, ada gambar personaliti tertentu bersama botol atau gelas berisi arak. Lebih malang lagi apabila personaliti itu beragama Islam.
Bukankah lebih elok jika beliau, atau mana-mana orang Islam, tidak menghadiri atau membabitkan diri di tempat yang boleh menimbulkan fitnah seperti itu.
Saya memahami jiwa orang muda yang sukakan hiburan tetapi perlu berhati-hati dengan saluran hiburan yang kita pilih. Jangan apabila mengetahui ia jelas haram, kita masih memilih jurang kerosakan berkenaan yang akhirnya mengundang padah tanpa kita sedari.
Dalam hal pemakanan pula, masih ada segelintir saudara sesama Islam yang mengambil pendekatan mudah dengan melihat logo halal.
Asalkan ada logo ‘halal’, halallah makanan berkenaan pada pandangannya tanpa mengambil berat sama ada logo halal itu diiktiraf atau tidak.
Samalah keadaannya ketika membeli makanan pek di pasar raya mahupun makanan di restoran. Ada yang berpendapat jika tiada bahan haram seperti ‘khinzir’ atau ‘arak’ dalam makanan atau minuman berkenaan, tidak salah untuk dimakan walaupun diberitahu pihak tertentu yang ia haram.
Sama juga senario yang sering dilihat di kedai makan, asalkan pekerjanya ada rupa Melayu atau ada papan tanda ‘tiada khinzir’ atau seumpamanya, kebanyakan masyarakat menganggap makanan di restoran atau kedai makan itu halal.
Harus diingat, setiap yang dimakan mungkin membentuk darah daging kita. Mungkin juga ia mengalir menjadi sebahagian daripada darah daging yang membentuk zuriat kita.
Tidak mustahil antara punca keruntuhan akhlak yang menggusarkan pada hari ini bertitik tolak daripada punca pemakanan kita.
Malah, antara penyebab mengapa kita terlalu ‘liat’ untuk melakukan ibadah disebabkan faktor sumber haram yang kita makan. Oleh itu sentiasa berwaspada ketika memilih makanan dan minuman.
Dalam soal pertuturan seharian kita pula, kita harus berhati-hati dengan apa yang kita lafaz kerana dibimbangi akan menyebabkan akidah kita terpesong. Kadangkala, kata-kata kita seolah-olah menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan.
Firman Allah SWT di dalam surah An-Nahl, ayat 116 bermaksud: “Jangan kamu berkata dusta menurut yang diterangkan oleh lidahmu sendiri; Ini halal dan ini haram, supaya kamu mengadakan dusta terhadap Allah. Sesungguhnya, orang-orang yang mengadakan dusta terhadap Allah tidak beroleh kemenangan.”
Saya sedih melihat kebanyakan kedai nombor ramalan judi
dipenuhi orang Islam daripada segenap lapisan usia. Lebih pilu lagi apabila
melihat ada mereka yang berumur lebih 60 tahun, tanpa segan silu dan rasa
bersalah, beratur bersama-sama yang bukan Islam.
Pernah terdengar kata-kata dilafazkan seseorang beragama Islam yang kecewa apabila nombor ramalan judinya tidak ‘mengena’ dengan menyebut: “Allah, sikit je lagi nak kena.” Begitu juga sebaliknya, barangkali ada yang menyebut, “Alhamdulillah, kena juga nombor ramalan aku kali ni.” Kata-kata seperti ini boleh membatalkan iman kita. Nauzubillah Min Zalik (kami berlindung dengan Allah daripada hal itu).
Baru-baru ini, saya melihat sebuah video yang banyak dikongsi kenalan di Facebook. Saya sangat terkejut apabila menonton video itu yang menemubual seorang ibu yang sanggup berzina dengan anak lelaki sulungnya selepas ketiadaan suaminya di sisi.
Lebih mengejutkan apabila si ibu, tanpa rasa bersalah, menyatakan: “... daripada berzina dengan orang lain, lebih baik saya berzina dengan anak sendiri.” Beristighfar panjang saya selepas menyaksikan video berkenaan. Manusia semakin jahil akibat jauh daripada hidayah Allah.
Tidak hairan bala dan bencana Allah datang bertimpa- timpa pada akhir zaman ini. Namun demikian, bagi mereka yang tidak mahu menginsafi, bala yang datang dilihat tidak lebih daripada sekadar lumrah alam.
Sebagai Muslim, kita mesti mengambil iktibar bahawa setiap bala yang Allah timpa ke atas manusia adalah kerana kelalaian manusia.
Firman Allah SWT dalam surah Ar-Rum, ayat 41 bermaksud: “Telah jelas kerosakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki mereka merasakan sebahagian daripada (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan benar).” Rasulullah SAW pernah bersabda di dalam sepotong hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bermaksud: “...Ketahuilah bahawa dalam diri ini ada segumpal daging, jika ia baik, baiklah seluruh tubuh ini dan jika ia buruk, buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahawa ia adalah hati.” Jadi, cerminlah diri dan tanya iman sama ada kita kita tergolong dalam kumpulan ini secara sedar atau tidak.
Sumber:
www.hmetro.com.my
Hidup diberkati
Posted On Saturday, December 15, 2012 at at 12:14 AM by maori
CINTA
adalah naluri manakala manusia adalah pencari cinta. Kadang-kadang, demi cinta
manusia sanggup melakukan apa saja. Ungkapan ‘cinta itu buta’ menambah kebutaan
sehingga lupa kepada yang Maha Pencipta iaitu Allah.
Bersungguh-sungguh
mencari cinta sementara yang penuh risiko dan derita, lupa mencari cinta yang
kekal abadi dan hakiki. Menurut cerdik pandai, kalau nak kenal sejauh mana
Allah cinta kita, boleh tanya diri kita sendiri, sejauh mana kita dahulu
mencintai Allah.
Kita
yang menjalani kehidupan ini yang semuanya ‘meminjam’ daripada Allah. Kita lupa
kepada yang memberi pinjam. Sudahlah meminjam, menumpang pula, tak tahulah pula
kita ini disayangi atau dimurkai.
Betapa bahagianya kalau dicintai Sang Pencipta yang menguasai segala-galanya. Alangkah derita jika kita antara makhluk yang tidak disukai Allah, apatah lagi jika dimurkai.
Pada pertemuan kali ini, mari kita melihat tanda-tanda jika kita disayangi Allah iaitu:
Allah akan menjaganya di dunia
Apabila
Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan menjaganya. Allah jaga mereka
daripada dunia yang melalaikan dan dosa yang akan menghancurkan kehidupannya.
Maka dalam setiap perjalanan waktu, Allah perlu menjadi tujuan kita. Rasulullah bersabda maksudnya: “Sesungguhnya Allah akan menjaga hamba-Nya yang beriman dan Dia mencintai-Nya seperti kalian menjaga makanan dan minuman orang sakit (di antara) kalian, kerana kalian takut pada (kematiannya).” (Hadis riwayat Al-Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim dan Al Baihaqi).
Maka dalam setiap perjalanan waktu, Allah perlu menjadi tujuan kita. Rasulullah bersabda maksudnya: “Sesungguhnya Allah akan menjaga hamba-Nya yang beriman dan Dia mencintai-Nya seperti kalian menjaga makanan dan minuman orang sakit (di antara) kalian, kerana kalian takut pada (kematiannya).” (Hadis riwayat Al-Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim dan Al Baihaqi).
Kesolehan
Ketika Allah mencintai seorang, Allah akan memberikan kekuatan kepadanya untuk menjadi hamba yang soleh. Allah mudahkan mereka untuk melakukan kebaikan.
Maka, perjuangan menjadi lebih soleh adalah langkah mendapatkan sepenuh cinta daripada Allah. Dalam sebuah hadis yang maksudnya: “Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan (kesedaran) beragama, kecuali kepada yang Dia Cintai. Maka barang siapa diberikan (kesedaran) beragama oleh Allah, bererti ia dicintai oleh-Nya.” (Hadis riwayat Imam Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi).
Memahami agama
Ketika
seorang hamba dicintai Allah, maka Allah akan memudahkannya memahami agama
sehingga setiap ilmu yang dipelajari akan mudah difahami dan diamalkan.
Sulit
melakukan maksiat
Di
antara tanda Allah mencintai hamba-Nya ialah kesulitan melakukan maksiat.
Mereka tidak akan boleh melakukan maksiat dan jika terbiasa melakukan maksiat, mereka akan merasakan itu sangatlah sulit sehingga tidak boleh melakukannya.
Seperti kisah Rasulullah s.a.w, Allah yang memalingkan baginda supaya tidak datang ke pesta malam dengan cara menjadikannya mengantuk luar biasa dan tertidur ketika dalam perjalanan.
Mereka tidak akan boleh melakukan maksiat dan jika terbiasa melakukan maksiat, mereka akan merasakan itu sangatlah sulit sehingga tidak boleh melakukannya.
Seperti kisah Rasulullah s.a.w, Allah yang memalingkan baginda supaya tidak datang ke pesta malam dengan cara menjadikannya mengantuk luar biasa dan tertidur ketika dalam perjalanan.
Husnul Khatimah
Di
antara tanda Allah mencintai hamba-Nya ialah Dia menutup umurnya dengan amal
soleh. Tidak semua manusia yang mendapatkan kenikmatan itu.
Sebahagian manusia menghabiskan umurnya dalam ketaatan, tetapi mati dalam keadaan maksiat kepada Allah. Abu Bakar berkata: “Jika satu kakiku di dalam syurga, dan kaki yang lain di luar syurga, maka aku belum aman.”
Jika kita melakukan maksiat, takutlah pada kematian dan hati-hatilah kalau kita mati dalam keadaan melakukan maksiat. Rasulullah Bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memaniskannya.” Sahabat bertanya: “Apa itu memaniskannya ya Rasulullah?”
Baginda berkata: “Dia akan memberi petunjuk untuk melakukan kebaikan saat menjelang ajalnya, sehingga tetangga akan meredainya atau ia berkata orang sekelilingnya.” (Hadis riwayat Al-Hakim).
Demikianlah ketika Allah mencintai kita, maka kita perlu menyedari kita hanyalah manusia biasa bukan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu.
Sebagai manusia, kita sentiasa tidak pernah puas. Maka perjuangan terbesar dan terberat kita ialah melawan hawa nafsu. Jika terlalu menurut nafsu, ia akan menghancurkan kita.
Selamat berjuang semoga Allah selalu bersama kita.
Sumber: www.hmetro.com.my
Cuti sekolah untuk caj semula semangat
Posted On Monday, December 3, 2012 at at 9:30 PM by maori
MUSIM
cuti sekolah sudah tiba. Anak dan pelajarlah yang gembira, maklumlah selepas
penat belajar dan bertungkus-lumus di dalam kelas, sekarang tiba musim
merehatkan minda, cuti daripada rutin kelas.
Berehat
pun bukan sebarang rehat dan cuti tapi hendak ‘recharge’ semula semangat dan
motivasi. Tinggalkan sekolah
sekejap bukannya benci dan ‘give up’ pada ilmu tetapi setelah bercuti nanti
kembali ke sekolah dengan lebih bersemangat dan menyintai ilmu.
Ibu bapa mungkin sedang merancang bagaimana memanfaatkan cuti penggal ini, semoga perancangan yang digarap terbaik untuk anak.
Sebab anak adalah harta dan aset paling berharga bukan sahaja untuk keluarga malah negara dan Islam tercinta. Sebagai manusia kita sememangnya perlu didisiplinkan dengan sistem.
Solat, puasa, zakat dan haji juga mempunyai sistemnya tersendiri. Ibadah dalam Islam sebenarnya mengajar pengamalnya supaya menjadi orang bersistematik dalam kehidupan.
Kalau berterusan mengamalkan Islam kita akan berdisiplin sama ada ketika bersekolah atau ketika cuti. Semasa bersekolah kita kena bangun awal, dengan adanya sistem solat, walaupun cuti sekolah tetap kena bangun awal juga sebab kita wajib menunaikan solat Subuh.
Janganlah mentang-mentang tidak sekolah, solat Subuh jadi ‘subuh gajah’.
Pastikan ibu ayah mengejutkan anak awal untuk solat.
Begitu juga anak perempuan kita, kena pakai tudung dan tutup aurat bukan sahaja kerana disiplin sekolah atau kerana cantik dan bersopan atau kerana anak orang lain bertudung tetapi kerana ia kewajipan yang diperintahkan Allah.
Walaupun kita ada masa untuk bercuti dan berehat, perlu diingat syaitan dan iblis tidak pernah berehat dan bercuti. Syaitan dari awal lagi sudah bersumpah akan menggoda dan menyesatkan anak Adam.
Sebenarnya Allah menyuruh kita supaya mentaati-Nya kerana Allah hendak bagi kita syurga. Kalau kita benar-benar hendakkan syurga, kenalah taat kepada-Nya.
Apabila tidak ikut Islam, kita tidak akan berdisiplin. Bila tidak berdisiplin, jadilah seperti ‘Mat Rempit’ yang tak berdisiplin di jalan raya malah mencabar undang-undang.
Semuanya bermula apabila tidak takutkan Allah. Kepada ibu bapa, jangan lupa program pembangunan iman untuk anak seperti bawa mereka solat berjemaah di masjid, dengar kuliah di masjid, membaca al-Quran bersama serta hantar mereka ke kem motivasi.
Tidak mengapa melabur sedikit demi masa depan anak. Saidina Umar berkata, “Ajar serta didiklah anak-anak kamu kerana zaman kamu berbeza dengan zaman anak kamu.”
Cuma ibu bapa perlu lebih berhati-hati dalam memilih modul dan cara perjalanan kem motivasi yang dijalankan. Bukan apa, sebab ada setengah kem motivasi yang dijalankan tidak mementingkan roh Islam.
Pergaulan lelaki dan perempuan tidak dijaga. Setengah permainan menghalalkan pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan. Kadang-kadang tidak menghormati waktu solat seperti waktu Maghrib sudah masuk tetapi peserta masih dalam latihan.
Pihak masjid kalau boleh, biarlah turut sama terbabit mengatur program cuti yang efektif untuk anak. Rancang dan hebahkanlah kepada ahli jemaah untuk
memberi ‘mood’ kepada remaja.
Duit derma yang dihulurkan jemaah jangan hanya disimpan dan diguna untuk mengecat atau mengindahkan masjid sahaja tapi perlu ‘dipulangkan’ kepada ummah dalam bentuk program dan pendidikan.
Masjid bukan hanya tempat ibadah tetapi juga menjadi institusi dan madrasah kepada masyarakat. Wang pun kalau dibelanja akan bertambah derma dan simpati penderma. Janganlah dikira sangat duit yang hilang berbanding dapat memulihkan semangat dan motivasi remaja dalam menghadapi godaan syaitan yang penuh racun itu. Selamat bercuti!
Sumber: www.hmetro.com.my
Cipta kecemerlangan mengisi masa
Posted On Sunday, November 25, 2012 at at 6:04 PM by maori
Imam Hassan al-Banna ada
menyebut, “Masa adalah kehidupan”. Ertinya,
orang yang tidak mempedulikan masanya seolah-olah mereka membuang kehidupannya.
Dalam erti lain, orang yang membuang masa sama seperti membunuh kehidupannya.
Islam sebagai agama yang mempelopori kecemerlangan sejak awal-awal lagi iaitu ribuan tahun dulu menyerang dan mencela mereka yang alpa dalam mengurus masa.
Islam sebagai agama yang mempelopori kecemerlangan sejak awal-awal lagi iaitu ribuan tahun dulu menyerang dan mencela mereka yang alpa dalam mengurus masa.
Sebagaimana firman Allah yang bermaksud: “Demi masa sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali orang yang beriman dan beramal soleh dan mereka yang berpesan dengan kebenaran dan kesabaran”.
Hebatnya masa menurut
Allah sehingga banyak perkataan ‘sumpah’ dalam al-Quran dikaitkan dengan masa.
Seperti demi waktu malam, demi waktu Duha, demi waktu siang dan banyak
lagi.
Generasi silam yang
mencipta kecemerlangan kerana mereka bijaksana dalam mengisi masa. Mereka bukan
hanya membaca, tetapi mengkaji dan menganalisis.
Mereka bukan hanya menjadi pengguna, tetapi pencipta, mereka bukan saja penulis ,tetapi menterjemah dalam bentuk perbuatan. Tidak hairanlah jika mereka menjadi tokoh di usia muda.
Kenapa kita tidak boleh jadi seperti mereka? Mereka manusia, kita pun manusia. Jumlah hari dalam setahun masih sama 365 hari, sebulan masih juga 30 hari dan tujuh hari seminggu pun masih tidak berubah sehari semalam 24 jam tetap seperti dulu.
Cuma berbeza ialah cara mereka mengisi ruang masa. Lihatlah Imam Al-Jauzi berkata, dia pernah membaca sebanyak 20,000 buku.
Ibnu Sina ketika merawat Sultan memilih untuk membaca semua buku di perpustakaan diraja daripada menerima pangkat kebesaran.
Imam Syafie mempunyai lebih daripada 1,000 guru. Cerita seumpama itu sepatutnya menjadi sumber motivasi kepada kita.
Bayangkan jika kita menghabiskan masa sejam sehari tanpa faedah dalam setahun kita membuang 365 jam kehidupan kita.
Dengan jumlah masa sebegitu banyak jika kita gunakan untuk mempelajari bahasa sudah berapa bahasa kita boleh faham?
Jika kita gunakan masa sebanyak itu untuk menghafal ayat al-Quran sudah berapa surah kita hafal? Itu baru sejam satu hari.
Bayangkan berjam-jam kita bersembang, melepak di tepi jalan, berborak tanpa tujuan, merayau-rayau, apa lagi lumba haram dan pulang dari pusat hiburan ketika Subuh menjelang.
Malang sekali jika kita termasuk dalam senarai mereka yang diisytihar Allah sebagai orang yang paling rugi. Hidup ini mempunyai tiga masa saja, iaitu masa yang sudah lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang atau masa kita adalah semalam, hari ini dan esok.
Kehidupan kita hari ini sebenarnya ditentukan masa silam dan bagaimana kehidupan esok ditentukan sikap kita hari ini. Sekiranya sifat malas yang kita ‘semai’ nescaya kegagalan yang akan kita tuai kelak.
Jiwa yang besar menghiasi diri dengan ilmu manakala jiwa sederhana bercakap soal peristiwa saja dan jiwa yang rendah asyik bercakap mengenai orang saja.
Orang yang berfikiran cetek pula hanya sibuk bercakap mengenai dirinya saja.
Malah, berkaitan masa juga, Rasulullah memberikan peringatan kepada kita untuk memanfaatkan masa dalam lima keadaan iaitu:
·
Masa muda sebelum tua.
·
Masa sihat sebelum sakit.
·
Masa kaya sebelum miskin.
·
Masa lapang sebelum sibuk.
·
Masa hidup sebelum mati.
Kecergasan fizikal dan mental ketika muda sepatutnya digunakan untuk menimba ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin sebab apa yang akan terjadi pada hari tua ditentukan mengikut apa yang kita lakukan ketika muda.
Nikmat kesihatan juga amat berharga.
Seluruh anggota badan kita adalah milik
Allah yang wajib kita jaga amanah itu. Ramai yang tidak menghargai nikmat sihat yang mana terbabit dalam aktiviti yang membawa kemusnahan dan kesengsaraan pada diri.
Kekayaan tidak kekal, malah ia boleh bertambah dan hilang musnah sekelip mata. Justeru kekayaan adalah amanah, mendapat dan menggunakannya mengikut peraturan Allah.
Allah yang wajib kita jaga amanah itu. Ramai yang tidak menghargai nikmat sihat yang mana terbabit dalam aktiviti yang membawa kemusnahan dan kesengsaraan pada diri.
Kekayaan tidak kekal, malah ia boleh bertambah dan hilang musnah sekelip mata. Justeru kekayaan adalah amanah, mendapat dan menggunakannya mengikut peraturan Allah.
Kita boleh mencari harta sebanyak mungkin, tetapi bukan untuk menjadi seperti Qarun yang mabuk dengan kekayaan dilaknat dan diazab atau pun tidak menjadi Tha’labah yang kaya tetapi bakhil.
Jadilah kekayaan harta yang kita miliki untuk menjadi seorang dermawan. Terakhir sekali yang amat penting masa hidup sebelum mati.
Kata Saidina Ali: “Sesiapa yang ingin hidup selepas mati, bersedia dengan amalan dan sesiapa yang tidak beramal tiada lagi kehidupan (kenikmatan) selepas mati.”
Sumber: www.hmetro.com.my
Perasaan malu mampu halang perbuatan tak senonoh
Posted On Saturday, September 15, 2012 at at 10:42 AM by maori
Zaman mutakhir ini memperlihatkan kepada kita pelbagai
kepincangan berlaku antaranya merosotnya akhlak dan tersebarnya kemaksiatan. Sebahagian
manusia hilang rasa malunya kepada orang lain. Disebabkan hilangnya perasaan
malu, pelbagai tingkah laku tidak senonoh ditonjolkan.
Malu adalah sebahagian
daripada iman. Sifat malu sangat penting untuk dimiliki setiap Muslim. Malah
Nabi sendiri adalah insan yang sangat pemalu. Diriwayatkan
oleh Bukhari, Rasulullah lebih malu sifatnya dari seorang gadis. Itulah
pentingnya memiliki sifat malu kerana jika ada perasaan malu, seseorang Muslim
dapat mencegah dirinya dari membuat perkara yang dilarang.
Mereka akan malu untuk melakukan perkara tidak senonoh, maksiat dan malu untuk pergi ke tempat yang tidak sepatutnya. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri, beliau berkata: Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya sebahagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (Hadis riwayat Bukhari).
Malu adalah antara ajaran yang tidak luput hingga sekarang. Ia menunjukkan malu mempunyai nilai yang tinggi di dalam agama. “Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu” bukanlah kata-kata galakan kepada manusia untuk melakukan sesuka hati mereka.
Ia bermaksud ancaman buat manusia yang tidak mempunyai perasaan malu untuk berbuat kerosakan dan kemaksiatan. Maksud ayat itu juga adalah untuk memberitahu malu adalah perisai kepada diri seseorang.
Pernah diriwayatkan, terdapat seorang Ansar yang memberikan nasihat kepada sahabatnya mengenai sifat malu. Beliau menyalahkan sahabatnya yang selalu malu dalam banyak hal.
Kebetulan ketika itu Rasulullah sedang lalu dan terdengar perbualan mereka berdua. Baginda berpesan, “Biarkanlah dia, kerana malu itu sebahagian daripada iman.
Hadis riwayat Abu Hurairah, beliau berkata: Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman.” (Sahih Muslim No.50).
Hadis riwayat Imran bin Husaini, beliau berkata: Nabi pernah bersabda: “Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan.” (Sahih Muslim No.53).
Dalam masyarakat kita, ada anak yang berani meninggikan suara dan bersifat kurang ajar terhadap ibu bapa mereka. Ia berlaku kerana kepincangan nilai serta hilangnya rasa malu dari dalam diri.
Begitu juga, pelajar mula tidak menghormati gurunya, lelaki melangkah ke tempat maksiat, perempuan yang tidak sopan di khalayak ramai, pasangan bercinta berjumpa dan bercanda serta ada di kalangan masyarakat mula dihinggapi perasaan ingin popular seperti artis.
Pemimpin pula menganggap jawatan dan amanah sebagai batu loncatan mengaut keuntungan dan melakukan kezaliman akibat hilangnya perasaan malu.
Pendek kata, apabila rasa malu mula sedikit demi sedikit hilang dari seseorang, maka terbukalah pintu kemaksiatan dan fitnah bakal bermaharajalela.
Sebab itu, sifat malu penting untuk dipelihara dan dijaga. Jangan terpengaruh dengan sistem pendidikan barat yang mengajar anak mereka supaya tidak malu.
“Just do it” antara kata-kata popular di kalangan remaja dan masyarakat. Walaupun ada kebaikannya kepada diri dan masyarakat namun ia perlu diperhalusi.
Namun dalam bab menuntut ilmu dan menyatakan yang hak kita seharusnya tidak boleh malu. Malah, wanita pada zaman Rasulullah tidak menghalang diri mereka dari bertanya dan mendalami ilmu pengetahuan.
Sifat itu wajar kita contohi malah pepatah Melayu ada mengatakan “Malu bertanya sesat jalan”. Ia menunjukkan, bagi mengeluarkan seseorang dari kejahilan dan kekaburan, jangan malu untuk bertanya dan menimba ilmu.
Rasa malu untuk melakukan kebaikan tidak patut ada di dalam diri manusia kerana Allah menyuruh hamba-Nya berlumba-lumba melakukan kebaikan.
Antara dimensi malu yang perlu diberi perhatian ialah:
1.
Rasa
malu kerana meninggalkan kewajipan (hal yang berhukum fardu dan wajib meliputi
iman dan semua kewajipan agama).
2. Rasa
malu untuk kerana meninggalkan sunnah (hal yang berhukum sunnah yang dianjurkan
berdasarkan contoh dari Rasulullah).
3.
Rasa
malu kerana meninggalkan kemuliaan (hal termasuk kategori sifat dan sikap mulia
selain yang jelas berhukum wajib dan sunnah).
4. Rasa
malu kerana melakukan pelanggaran, kemaksiatan dan hal yang diharamkan dalam
syariah Islam.
5. Rasa malu
kerana melakukan hal yang melanggar adab dan etika di tengah-tengah masyarakat
6-Rasa malu kerana melakukan hal berhukum syubhat dan makruh.
Sumber: www.hmetro.com.my
